Trik Menang dari Si Kecil Saat Terjadi Konflik Kepentingan

53

Sebagai orang tua, kita pasti pernah atau bahkan sering mengalami konflik kepentingan dengan anak kita yang masih balita.

Aliv, anak pertamaku yang sekarang berusia 2 tahun sangat senang bermain di udara terbuka. Ia bisa menghabiskan berjam-jam ketika bermain di luar ruangan, namun hanya bertahan kurang dari 5 menit ketika bermain di dalam kamar.

Pada awalnya aku lebih senang dan cenderung “memaksa” Aliv bermain di dalam rumah. Mengeluarkan semua mainannya dengan harapan ia bisa bermain lama dengan setiap mainan yang ada (iya ini kepentinganku). Namun kenyataannya Aliv hanya bermain sebentar, lalu mulai merengek tidak jelas yang menandakan ia mulai bosan. Biasanya kalau sudah seperti itu, aku membuka pintu rumah dan dengan girang dia menuju ke luar seperti tidak menghirup udara satu tahun (ini kepentingan Aliv).

Aliv senang bermain di udara terbuka

Masalah mulai muncul ketika mulai gerimis misalnya, biasanya Aliv tetap tidak mau masuk ke rumah dan memberontak ketika dipaksa. Ada beberapa trik yang biasa aku lakukan, dan aku melakukannya bertahap, goalnya adalah Aliv masuk ke rumah atas kemauannya sendiri.

Trik Menang dari Si Kecil

Mengajak Anak Berkomunikasi

Sebenarnya kosakata Aliv masih sangat sedikit untuk bisa memahami penjelasan yang sederhana. Namun aku selalu menempatkan trik ini di urutan pertama. Alasannya ada 2 yaitu (1) Aku melatih diriku sendiri untuk terbiasa menjelaskan sesuatu kepada Aliv ketika nanti dia sudah cukup besar untuk menanyakan apa yang boleh dan tidak, dan (2) aku yakin sedikit banyak hal tersebut pasti membantu menambah kosakatanya dan menjadikannya cepat berbicara.

Dalam banyak kasus, trik ini berhasil. Hanya saja aku harus cukup sering mengulang penjelasannya, dan yang paling penting aku harus berada sejajar dengannya sehingga tatapan kami bisa saling bertemu. Biasanya Aliv terdiam ketika aku menjelaskan, lalu mulai merengek lagi, lalu aku mengulang lagi penjelasan, begitu seterusnya. Sebisa mungkin aku selalu menggunakan kata yang Aliv telah tahu maknanya. Ini akan membuat dia terdiam untuk mencerna dan memahami maksud dari penjelasanku.

Sebagai contoh, Aliv sudah tahu arti kata “hujan”, “sakit” dan “batuk”, ketika aku ingin dia masuk ke rumah karena mulai gerimis, aku akan menggunakan kata-kata tersebut dengan penekanan ekstra.

“Aliv, sekarang mau turun HUJAN, HUJAN, HUUUJAN. Kalau Aliv tetap main saat HUUUJAN, nanti Aliv SAAAKIT, terus BAATUUK (lalu menirukan orang batuk). Itu lihat langitnya mulai gelap (sambil menunjuk ke atas)”.

Dan di sinilah kuncinya: ketika Aliv terdiam cukup lama, aku dengan segera menggendongnya, memberikan kecupan di pipi, sambil tetap terus mengulang penjelasanku sembari kami menuju ke zona aman (dalam hal ini masuk ke rumah).

Jika trik ini tidak berhasil, biasanya saat aku menjelaskan Aliv akan terus rewel, memberontak dan tidak berusaha mencerna apapun yang aku sampaikan. Ketika hal ini terjadi, aku akan menggunakan trik selanjutnya.

Tawarkan Anak Kepentingan Dia yang Lainnya

Aku ingin memberikan peringatan awal, jangan pernah berbohong pada anak dengan kalimat seperti “masuk yuk, nanti mama kasih coklat” kecuali kalau coklatnya memang ada dan si anak memang akan diberi. Mari kita akui, tidak ada yang suka dibohongi bukan?

Aliv sangat suka makan, iya makan apa saja. Biasanya aku akan coba menawarkannya untuk makan. “Kita masuk ke dalam yuk, kita MAKAAAN”. Jika dengan verbal tidak berhasil, aku coba untuk membawa makanan ke luar dan menunjukkannya agar Aliv melihat makanan apa yang aku tawarkan. Trik ini jarang berhasil karena bermain di luar ruangan adalah kepentingannya nomor satu, sehingga sulit dikalahkan dengan makanan atau cemilan yang sudah biasa ia santap sehari-hari. Kecuali jika ada cemilan lain yang unik dan jarang ia makan seperti es krim atau cake coklat, biasanya dia akan sigap berlari masuk ke dalam.

Namun, jika cara kedua ini tidak membuahkan hasil, aku akan menggunakan trik terakhir. Ini adalah trik yang percaya atau tidak, SELALU BERHASIL!

Abaikan Si Kecil

Tunggu, kalau trik ini selalu berhasil kenapa berada di urutan terakhir? Sebentar lagi anda akan tahu alasannya. Ketika dua usaha di atas tidak mencapai goal yang kita maksudkan di awal, ini adalah saat untuk trik yang selalu berhasil.

Aliv, seperti balita seusianya pada umumnya, tidak senang ditinggal atau lebih tepatnya tidak senang jika tidak dihiraukan. Ingat baik-baik, mereka sangat senang mencari perhatian. Terkadang, jika kesabaranku mulai menipis atau rasa lelah menghampiri, aku bisa langsung mengambil jalan pintas dengan menggunakan trik ini.

Tanpa banyak berkata-kata, Aliv yang masih asik main di luar aku biarkan saja walaupun sebentar lagi hujan, aku tutup pintu rumah dan memastikan dia mendengar suara pintu tertutup. Aku berdiam cukup lama di dalam rumah sambil tetap mengawasinya lewat jendela rumah. Dan benar saja, selang 1 menit setelah pintu ditutup, Aliv lalu merengek dan teriak yang menandakan ia tidak ingin dibiarkan sendiri di luar. Aku tetap dengan aksiku, berdiam di dalam.

Aliv terus saja teriak, lalu mulai menangis palsu (sebutanku untuk menangis tanpa air mata). Tangisannya semakin kencang (dia sedang menarik), aku tetap di dalam rumah (aku sedang mengulur), iya ini tentang tarik-ulur. Lalu perlahan dia mulai mendekat ke pintu rumah dan memanggil “mama, mama”. Terdengar teriakannya mulai memudar, mungkin karena lelah. Saat itulah aku mulai membuka pintu dan tebak, begitu aku menggendongnya Aliv sama sekali tidak memberikan perlawanan, dia pasrah saja dan tangisannya berhenti ketika kami berdua sudah di dalam rumah.

Kasus lain adalah ketika kami sedang jalan-jalan pagi berdua. Ini salah satu aktifitas favorit kami karena ada banyak benda atau hewan yang bisa aku kenalkan pada Aliv di sepanjang perjalanan. Sampai tiba di setumpukan daun kering, dan seperti biasa aku mengajarkan Aliv namanya “ini DAUUN, DAAUUN, DAA-DAA-DAA–UUN”

Tanpa aku suruh, Aliv mengambil posisi duduk bersilah lalu mengacak-ngacak daun tersebut. Aksi tersebut ternyata membutuhkan lebih banyak waktu dari yang aku kira. Aliv terus saja asik bermain daun, dan aku merasa sudah saatnya untuk melanjutkan perjalanan. Karena trik pertama tidak berhasil, maka aku langsung menggunakan trik terakhir.

“Aliv, mama pulang dulu ya…” Aku berjalan meninggalkan Aliv yang sedang asik dengan tumpukan daun, awalnya dia tidak peduli, namun semakin aku berjalan ke depan, Aliv mulai memperhatikan gerakanku. Aku tidak ingin memuji anakku sendiri, tapi aku harus akui dia cukup cerdik untuk menebak bahwa aku pasti kembali.

Tapi tidak, mama tidak akan kalah. Jadi aku terus berjalan ke depan, walaupun sesekali aku tetap menengok ke belakang, karena aku tidak ingin mendapatkan kejutan tiba-tiba anakku hilang entah kemana. Namun aku tahu, jika aku menengok terus, Aliv akan sadar bahwa aku hanya menggertak, jadi aku mulai beranikan diri untuk tidak menengok sama sekali.

Dan benar saja, seperti kasus sebelumnya yang berhasil. Aliv mulai teriak dan menangis palsu, ingin agar aku mengikuti keinginannya untuk tetap bermain daun. Aku tidak menghiraukannya, aku tetap berjalan ke depan (walaupun hatiku was-was). Selang sekitar 100 meter dan aku berada di tikungan, kami mulai kehilangan pandangan. Aliv bangun dari posisi duduknya masih sambil nangis, dan mengejarku di belakang. Aku bisa mendengar suara kaki-kaki kecilnya menghentak aspal. Teriak namun takut. Aku pun berhenti persis di tikungan menunggunya dengan senyum lebar. Sesaat setelah melihatku dia terdiam namun segera kugenggam tangannya dan kami berjalan lagi serperti biasa.

Mudah, bukan? Oya sudah bisa menemukan jawaban kenapa trik ini berada di urutan terakhir? Karena ibu mana yang tega melihat anaknya nangis lalu membiarkannya? Tapi sewaktu-waktu anda harus melakukannya. Anak perlu tahu bahwa tidak semua hal harus mengikuti keinginannya. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *