Kenapa Negara Maju Kecendrungan Memiliki 4 Musim

Ini adalah trip pertama kami sekeluarga ke luar negeri, atau lebih tepatnya ke Korea Selatan. Karena membawa dua jagoan kecil yang masih balita maka ide untuk traveling “bebas” sepertinya bukan opsi yang tepat. Menggunakan jasa agen travel akan sangat membantu walaupun aku sendiri orang yang kurang senang dengan jasa seperti itu karena membunuh kreativitas, keterampilan problem solving ketika mengalami masalah selama perjalanan, dan pengalaman seru tak terduga yang biasa muncul dengan travel bebas tanpa jasa agen.

Erick, Si Pemandu Wisata

Agen travel kami memiliki 2 pemandu lokal dan satu pemandu wisata asal Korea dengan Bahasa Indonesia yang sangat fasih, kami memanggilnya Erick. Dia pernah belajar Bahasa Indonesia di UI, bahkan saking lancarnya ia bisa menirukan logat jawa yang medok. Selain itu, ia bahkan bisa mengeluarkan lelucon-lelucon segar yang “ngena” dan pribadinya bisa mingle dengan orang kita. Pokoknya si Erick ini orangnya supel dan seru. Kebayang kalau dia orang Indonesia, pasti anaknya asik banget dijadikan teman.

Salah satu lelucon pembuka di awal perkenalannya di atas bis adalah penggunaaan salam dalam Bahasa Korea. “Annyeong Haseyo teman-teman semua. Mulai sekarang, selama dalam trip ini kita sepakat ya untuk memberikan salam, bukan lagi dengan selamat pagi, siang, malam, tapi dengan Annyeong Haseyo” Tuturnya sembari menjelaskan bahwa orang Korea hanya punya satu jenis salam untuk situasi apapun. “Nanti kalau ada yang melanggar, dendanya 20,000 Won per orang, kalau setiap orang ada yang melanggar setiap harinya, saat trip ini selesai maka setiap orang masing-masing bisa bawa pulang tas LV ya”.

Hubungan Negara Maju dengan 4 Musim

Saat itu pagi hari dan kami sedang menuju ke salah satu spot wisata Korea Selatan yaitu Winter Sonata. Di tengah perjalanan Erick menjelaskan gaya makan orang Korea yang sangat senang menyediakan berbagai side dish (makanan sampingan) selain menu utama dan yang paling umum adalah kimchi.

winter sonata south korea
Berfoto di Winter Sonata. Alva and parents.

“,kimchi itu cara nenek moyang kami untuk menyimpan makanan agar awet dalam waktu yang lama” ujar Erick. Ia lalu meminta kami mengarahkan pandangan kami ke luar jendela. “Kalian lihat di musim dingin seperti ini, apa ada tanaman yang tumbuh?” tanyanya. Sepanjang jalan hanya pohon-pohon kering yang tinggal batangnya saja menghiasi trotoar. “,enggak ada kan?” tegasnya.

Erick pun melanjutkan nenek moyangnya dulu harus bekerja keras di 3 musim sebelumnya untuk memperoleh makanan agar bisa hidup dan bertahan selama musim dingin. “,saya rasa demikian juga yang terjadi dengan negara-negara 4 musim lainnya”. Ia menegaskan jika nenek moyang kami bersantai-santai selama musim semi ke musim gugur, nanti musim dingin mereka bisa mati kelaparan. “,enggak seperti di Indonesia ya, bangun tidur eh pohon nanas tumbuh sendiri padahal enggak diapa-apain, kalau di negara kami enggak ada yang seperti itu”, penjelasannya disambut tawa oleh seisi bis.

“Itu juga alasan kenapa orang Korea enggak terlalu ramah, ya kan? Tidak seperti orang Indonesia yang sangat ramah, kebanyakan dari kami serius. Menurut saya itu karena ada hubungannya dengan musim dan cuaca negara kami”. Erick pun menjelaskan bahwa hal yang serupa juga terjadi di Jepang, Cina, dan beberapa negara Eropa yang terpapar 4 musim.

“Coba kalian ke Jerman, terus tanya orang dimana toilet, orang Jerman pasti singkat aja jawabnya, lurus terus kiri, udah” sambil menggerakkan tangan seolah-olah memberikan arahan. “,tapi kalau kalian ke Italia yang sepanjang tahun cenderung hangat cuacanya, ketika kalian tanya toilet, mereka akan bersemangat sekali memberikan arahan bahkan sampai diantar ke toiletnya, tapi hati-hati juga ya dicopet”. Walaupun Jerman dan Italia masih satu daratan, namun perbedaan musim bisa memiliki pengaruh terhadap keramahan warganya.

Hal yang serupa yang terjadi antara Utah, negara bagian Amerika paling utara (dekat kutub) dengan Florida di bagian selatan yang panas sepanjang tahun. “, di Amerika juga begitu ya, bahkan mereka punya lelucon kalau kamu terlalu serius atau jutek, mereka akan bilang kamu kayak orang Utah yang enggak bisa diajak bercanda”, jelas Erick.

Menurut Erick ada hubungan yang jelas antara musim di negara tertentu dengan pribadi warga negaranya. Mereka yang lahir dan besar di negara 4 musim akan cenderung memiliki peribadi yang serius dan ingin serba cepat dan sulit sekali untuk bersantai. Hal ini dikarenakan selama 3/4 waktu dalam satu tahun nenek moyang mereka dituntut untuk bisa berjuang mengumpulkan makanan agar tetap bertahan selama musim dingin. Walaupun sekarang hal itu tidak terlalu relevan lagi karena perbedaan zaman dan kecanggihan teknologi, namun filsafah, budaya, dan mindset tersebut telah mengalir dalam darah mereka dan darah generasi-generasi selanjutnya.

Menurutmu bagaimana? Cukup masuk akal ya hubungan antara negara dengan musim yang dimilikinya. Satu hal yang pasti dan aku yakin semua setuju adalah kesulitan ada untuk meningkatkan kapasitas kita agar bisa bertahan di situasi yane lebih sulit lagi. Walaupun Indonesia enggak punya 4 musim, tapi benang merahnya bisa kita ambil agar kita menyikapi setiap kesulitan dengan prasangka positif. Nahkoda kapal yang tangguh tidak terlahir dari laut yan tenang, kan? (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *